BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semenjak peradaban manusia mulai menggunakan uang,
terutama setelah penggunaan uang kertas dilakukan, telah disadari bahwa uang
dapat menimbulkan banyak persoalan dalam kegiatan perekonomian. Uang yang
berlebih-lebihan akan menimbulkan kenaikan harga-harga yang menyeluruh, yang
lebih dikenal dengan istilah inflasi. Semenjak beberapa abad yang lalu,
ahli-ahli ekonomi telah mencoba menganalisis pertalian diantara penawaran uang
dengan inflasi, dan analisis-analisis ini pada akhirnya mewujudkan salah satu
teori moneter penting dalam analisis ekonomi yaitu teori kuantitas. Teori ini
pada dasarnya berpendapat bahwa terdapat pertalian yang rapat diantara
perkembangan penawaran uang dan tingkat inflasi yang berlaku.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa
Pengertian dan Fungsi Uang
2. Bagaimana
Syarat-syarat dan Jenis Uang
3. Apa
Pengertian dan Pernyebab Inflasi
4. Bagaimana
Macam Inflasi dan Akibat buruk dari Inflasi
5. Bagaimana
Cara Penanggulangan Inflasi
1.3 Tujuan
1. Untuk
Mengetahui Pengertian dan Fungsi Uang
2. Untuk
Mengetahui Syarat-syarat dan Jenis Uang
3. Untuk
Mengetahui Pengertian dan Pernyebab Inflasi
4. Untuk
Mengetahui Macam Inflasi dan Akibat buruk dari Inflasi
5. Untuk
Mengetahui Cara Penanggulangan Inflasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Fungsi Uang
Uang dalam ilmu ekonomi
tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara
umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap
orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai
sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi
pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta
untuk pembayaran utang.
Sedangkan Uang dalam ekonomi modern didepenisikan oleh beberapa ahli sebagai
berikut
A.C
Piguo dalam bukunya The Veil Of Money yang dimaksud uanga adalah alat tukar.
D.H
Robertson dalam bukunya Money yang dimaksud dengan uang adalah sesuatu yang
bisa diterima dalam pembayaran untuk mendapatkan barang.
R.G
Thomas dalam bukunya Our Modern Banking menjelaskan bahwa uang
adalah seseuatu yang tersedia dan diterima umum sebagai alat pembayaran bagi
pembelian barang-barabg dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya.
Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih
mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efesien, dan kurang cocok
digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki
keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam
penentuan nilai. Efesiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada
akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian
akan meningkatkan produktifitas dan kemakmuran.
Pada awalnya di Indonesia, uang —dalam hal ini uang kartal—
diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun sejak dikeluarkannya UU No. 13 tahun 1968 pasal 26
ayat 1, hak pemerintah untuk mencetak uang dicabut. Pemerintah kemudian
menetapkan Bank Sentral, Bank Indonesia,
sebagai satu-satunya lembaga yang berhak menciptakan uang kartal. Hak untuk
menciptakan uang itu disebut dengan hak oktroi.
Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk
pertukaran barang dengan barang, juga untuk menghidarkan perdagangan dengan
cara barter. Secara lebih rinci, fungsi uang dibedalan menjadi dua: fungsi asli
dan fungsi turunan.
Fungsi asli uang ada
tiga, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai penyimpan
nilai. Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium
of exchange yang dapat mempermudah pertukaran. Orang yang akan melakukan
pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang
sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan
pertukaran uang.
Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of
account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukan nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan,
menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga
dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat
satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran. Selain itu, uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta)
karena dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa
sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang
penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa
yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli
barang dan jasa di masa mendatang.
Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain
yang disebut sebagai fungsi turunan. Fungsi turunan itu antara
lain uang sebagai alat pembayaran, sebagai alat pembayaran utang, sebagai alat
penimbun atau pemindah kekayaan (modal), dan alat untuk meningkatkan status
sosial.
2.2
Syarat-syarat dan Jenis Uang
Suatu benda dapat dijadikan sebagai “uang” jika benda
tersebut telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Pertama, benda itu harus
diterima secara umum (acceptability). Agar dapat diakui sebagai alat
tukar umum suatu benda harus memiliki nilai tinggi atau setidaknya dijamin
keberadaannya oleh pemerintah yang berkuasa. Bahan yang dijadikan uang juga harus tahan
lama (durability), kualitasnya cenderung sama (uniformity),
jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat serta tidak mudah dipalsukan (scarcity).
Uang juga harus mudah dibawa, portable, dan mudah
dibagi tanpa mengurangi nilai (divisibility), serta memiliki nilai yang cenderung stabil dari waktu ke waktu (stability
of value).
Uang yang beredar dalam masyarakat dapat
dibedakan dalam dua jenis, yaitu uang kartal (sering pula disebut sebagai common
money) dan uang giral. Uang kartal adalah alat bayar yang sah dan wajib
digunakan oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual-beli
sehari-hari. Sedangkan yang dimaksud dengan uang giral adalah uang yang
dimiliki masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito). yang dapat
ditarik sesuai kebutuhan. Uang ini hanya beredar di kalangan tertentu saja,
sehingga masyarakat mempunyai hak untuk menolak jika ia tidak mau barang atau
jasa yang diberikannya dibayar dengan uang ini. Untuk menarik uang giral, orang
menggunakan cek.
2.3 Pengertian dan
Penyebab Inflasi
Definisi singkat dari inflasi adalah
kecenderungan harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan
harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila
kenaikan tersebut meluas kepada (mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari
harga barang-barang lain. Kenaikan harga-harga dikarenakan musiman, menjelang
hari-hari besar, atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh
lanjutan) tidak disebut inflasi.
Kenaikan harga semacam ini tidak
dianggap sebagai masalah atau “penyakit” ekonomi dan tidak memerlukan
kebijaksanaan khusus untuk menanggulanginya.[1][1] Jadi dari
definisi ini, ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah
terjadi inflasi yaitu: kenaikan secara terus menerus, bersifat umum, dan
berlangsung secara terus menerus.[2][2] Istilah inflasi
juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala
dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga.[3][3]
Ada banyak faktor yang menimbulkan
inflasi. Diantaranya, kenaikan harga bahan mentah yang diimpor, kenaikan harga
bahan bakar, defisit dalam anggaran belanja pemerintah, pinjaman sistem bank
yang berlebihan, dan kegiatan investasi yang sangat pesat perkembangannya.
Berdasarkan kepada sumber penyebabnya inflasi dibedakan menjadi 3 bentuk:
1. Inflasi tarikan permintaan
(deman-pull inflation)
Ini
merupakan bentuk inflasi yang diakibatkan oleh perkembangan yang tidak seimbang
diantara permintaan dan penawaran barang dalam perekonomian. Kenaikan
harga-harga ini disebabkan oleh pertambahan pengeluaran yang besar yang tidak
dapat dipenuhi oleh kemampuan memproduksi yang tersedia.
2. Inflasi desakan biaya (cost-push
inflation)
Inflasi
desakan adalah masalah kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh kenaikan dalam
biaya produksi sebagai akibat kenaikan harga bahan mentah atau kenaikan upah.
Inflasi seperti ini biasanya berlaku pada ketika kegiatan ekonomi telah
mencapai kesempatan kerja penuh
3. Inflasi diimpor (imported
inflation)
Kenaikan
harga-harga ini disebabkan oleh kenaikan harga barang impor yang digunakan
sebagai bahan mentah produksi dalam negeri. Inflasi ini pernah terjadi pada
tahun 1970an, yaitu adanya kenaikan harga minyak sebanyak tiga kali lipat pada
tahun 1973-4 yang dilakukan oleh negara-negara produsen minyak di Timur Tengah.[4][4]
2.4 Macam Inflasi dan Akibat buruk dari inflasi
Ada berbagai cara untuk
menggolongkan macam inflasi dan penggolongan mana yang kita pilih tergantung
pada tujuan kita.
Penggolongan pertama didasarkan atas parah tidaknya inflasi
tersebut. Disini ada beberapa macam inflasi:
1. Inflasi ringan (di bawah 10%
setahun)
2. Inflasi sedang (antara 10-30 %
setahun)
3. Inflasi sedang (antara 30-100 %
setahun)
4. hiperinflasi (diatas 100%
setahun)
penggolongan
yang kedua adalah atas dasar sebab musabab awal dari inflasi. Atas dasar ini
ada dua macam inflasi:
1.inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat akan berbagai
barang terlalu kuat. Inflasi semacam ini disebut deman inflation.
Inflasi menimbulkan beberapa akibat
baik maupun buruk kepada individu, masyarakat, maupun kegiatan perekonomian
secara keseluruhan. Akibat buruk yang paling nyata ialah menurunkan taraf kemakmuran segolongan besar masyarakat dengan
merosotnya pendapatan riil dari pekerja-pekerja yang berpendapatan tetap. Ini
merupakan salah satu alasan penting yang menyebabkan masalah inflasi yang perlu
dihindari.[6][6]
Disamping itu, inflasi juga dapat
menimbulkan berbagai akibat buruk keatas kegiatan dalam perekonomian yang pada
akhirnya akan menimbulkan ketidakstabilan, pertumbuhan yang lambat dan
pengangguran yang semakin meningkat. Inflasi yang serius yaitu inflasi yang
kelajuannya sudah tidak dapat dikendalikan dan akan mengurangi tabungan,
mengurangi gairah perusahaan untuk melakukan investasi yang produktif, dan
dapat menimbulkan kemerosotan nilai mata uang dan defisit dalam neraca
pembayaran.
Berbagai masalah diatas akan
memperlambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pengangguran. Inflasi akan
memperkaya pemilik modal dan pemilik harta tetap karena nilai kekayaan mereka
semakin meningkat. Sebaliknya, bagi golongan masyarakat yang bergaji tetap akan
mengalami kemerosotan dalam pendapatan riilnya.[7][7]
2.5 Cara Penanggulangan Inflasi
Inflasi tentunya harus diatasi dan
untuk mengatasinya dapat dilakukan pemerintah dengan cara melakukan beberapa
kebijakan. Adapun penjelasan kebijakan tersebut akan diuraikan di bawah ini.
1. Kebijaksanaan Moneter
Penyebab inflasi diantara jumlah
uang yang beredar terlalu banyak sehingga dengan kebijakan ini diharapkan
jumlah uang yang beredar dapat dikurangi menuju kondisi normal.
2. Kebijakan Fiskal
Inflasi dapat dicegah penurunan
permintaan total. Kebijaksanaan fiskal yang berupa pengurangan pengeluaran
pemerintah serta kenaikan pajak akan dapat mengurangi permintaan total,
sehingga inflasi dapat ditekan.
3. Kebijaksanaan yang
berkaitan dengan output
Kenaikan output dapat diperkecil
laju inflsai. Kenaikan jumlah output ini dapat dicapai misalnya dengan
kebijaksanaan penurunan bea masuk sehingga impor barang cenderung meningkat.
4. Kebijaksanaan penentuan
harga dan indecxing
Ini dilakukan dengan penentuan
ceiling harga, serta mendasar pada indeks harga tertentu untuk gaji ataupun
upah (dengan demikian gaji/upah secara riil tetap). Kalau indeks harga naik,
maka gaji/upah juga dinaikkan.[8][8]
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang
tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang
dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang.
Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk
pertukaran barang dengan barang, juga untuk menghidarkan perdagangan dengan
cara barter. Secara lebih rinci, fungsi uang dibedalan menjadi dua: fungsi asli
dan fungsi turunan.
Definisi singkat dari inflasi adalah
kecenderungan harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Ada
banyak faktor yang menimbulkan inflasi yaitu: kenaikan harga bahan mentah yang
diimpor, kenaikan harga bahan bakar, defisit dalam anggaran belanja pemerintah,
pinjaman sistem bank yang berlebihan, dan kegiatan investasi yang sangat pesat
perkembangan. Cara menanggulangi inflasi antara lain: kebijakan moneter,
kebijakan fiskal, kebijakan yang berkaitan dengan output, dan kebijakan
penentuan harga dan indexing.
DAFTAR PUSTAKA
Sadonodari Sukirno, Makroekonomi,
PT Raja Grafindo, Jakarta, 2002
Boediono, Ekonomi Makro, BPFE-YOGYAKARTA, Yogyakarta,
2001
Prataman Rahardja dan Mandala Manurung, Teori Ekonomi
Makro, Fakultas Ekonomi Indonesia, Jakarta, 2005
Nopirin, Pengantar Ilmu Ekonomi Makro dan Mikro,
BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta, 2000
http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi diunduh tgl 13/12/2014
https://deluk12.wordpress.com/makalah-jenis-dan-fungsi-uang/
diunduh tanggal 13/12/2014
[1][1]
Boediono, Ekonomi Makro, BPFE_YOGYAKARTA, Yogyakarta, 2001, hal. 155
[2][2]
Pratama Rahardja dan Manadala Manurung, Teori Ekonomi Makro, Fakultas
Ekonomi UI, Jakarta, 2005, hal. 175
[4][4]Sadono
Sakirno, Makroekonomi Modern, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000,
hal. 11
[5][5]
Boediono, Ekonomi Makro, BPFE-YOGYAKARTA, Yogyakarta, 2011, hal. 156
[6][6]
Sadono Sakirno, Makro Ekonomi, PT RajaGrafindo, Jakarta, hal. 16
[7][7]
Sadon Sakirno, Makrekonomi Modern, PT RajaGrafindo, Persada, Jakarta,
2000